Fakultas Ilmu Kesehatan

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
1311846831_thumbs_600x200
fisio copy
gizi copy
keperawatan copy
kesmas copy

Beranda

Yoni Rustiana Kusumawati, Dwi Rosella Komala Sari

E-mail Print PDF

*). Jurnal ini dipublikasikan di JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN INDONESIA (JKKI) volume 8, No 2, April 2010. Terakreditasi No 83. DIKTI/Kep/2009. Diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN PENGETAHUAN PERAWATAN PAYUDARA PADA IBU NIFAS DI KABUPATEN BOYOLALI

 Yoni Rustiana Kusumawati, Dwi Rosella Komala Sari
Prodi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta

ABSTRACT

 Background: The problem that often occurs in nursing mothers can be prevented by breast care. Then be given an explanation of breast care. Based on preliminary studies in hospitals Surakarta to know the education level of mothers in childbirth who performed 12 Respondents (100%) that have high knowledge about breast care as much as 2 people (16.6%). And from 12 respondents (100%) of 2 people (16.6%) had knowledge of breast care, some of which have no protruding nipples and breast swelling.

To know the relationship of education level with knowledge about breast care at childbirth in hospitals mothers Surakarta.

Methods: This type of research used in this study is the analytic survey research method approach to data retrieval time with crossectional research subjects consisted of 41 respondents.

Results: There was a relationship between level of education with knowledge about breast care at childbirth the mother, as evidenced by the 41 respondents had obtained the majority of secondary education as many as 19 people (46.3%) and that have a high knowledge of as many as 25 people (61%) and supported with the existence of a significant relationship between level of education with knowledge about breast care at childbirth mother.

Conclusion: There is a relationship between level of education with knowledge about breast care at childbirth mother.

Keywords: level of education, knowledge, treatment of breast

PENDAHULUAN

Menyusui merupakan bagian yang terpenting dari nifas/pasca bersalin, karena bayi memerlukan ASI untuk pertumbuhan dan perkembangannya, ASI mengandung komposisi nutrisi yang ideal serta mudah dicerna oleh bayi. Selain itu, menyusui juga mengurangi perdarahan saat nifas dan membantu pemulihan rahim ke ukuran semula.

Besarnya kegunaan ASI membuat pemerintah menganjurkan pemberian ASI secara eksklusif selama enam bulan kepada bayi tanpa makanan pendamping. Namun dalam pelaksanaannya banyak kendala yang menyebabkan ASI tidak lancar, hal itu dapat dikarenakan tidak dilakukannya perawatan payudara sehingga terjadi puting susu datar atau masuk kedalam, puting susu lecet, payudara bengkak, radang payudara, dan lain sebagainya.

Masalah sering terjadi pada ibu menyusui terutama pada ibu primivara. Oleh karena itu, para ibu perlu mendapat penjelasan tentang pentingnya perawatan payudara, cara menyusui yang benar, dan hal-hal lain yang erat hubungannya dengan proses menyusui. Hasil SDKI 2008, menunjukkan penurunan jumlah bayi yang mendapatkan ASI eksklusif hingga 7,2%. Pada saat yang sama, jumlah bayi di bawah enam bulan yang diberi susu formula meningkat dari 16,7% pada 2005 menjadi 27,9% pada 2008. UNICEF menyimpulkan, cakupan ASI eksklusif enam bulan di Indonesia masih jauh dari rata-rata yaitu hanya 38%, hal itu menunjukkan bahwa banyak ibu yang kurang mengetahui keuntungan ASI terutama cara merawat payudara agar lancar saat menyusui.

Perawatan payudara tidak hanya dilakukan sebelum melahirkan tetapi juga dilakukan setelah melahirkan. Perawatan yang dilakukan terhadap payudara bertujuan untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya saluran susu sehingga memperlancar pengeluaran ASI.

Perawatan payudara akan berhasil jika ibu mempunyai pengetahuan yang baik tentang manfaat perawatan payudara dalam peningkatan produksi ASI, sehingga sangat berguna untuk meningkatkan kualitas bayi.

Kemampuan pengetahuan ibu dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya berdasarkan tingkat pendidikan formal. Seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan lebih mudah menerima dan mampu memahami pesan atau informasi dari pada yang berpendidikan rendah. Pendidikan seseorang yang berbeda-beda akan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan. Pada ibu yang berpendidikan tinggi lebih mudah dapat menerima dan melaksanakan.

Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui hubungan tingkat pendidikan dengan pengetahuan perawatan payudara pada ibu nifas di wilayah Kabupaten Boyolali.

BAHAN DAN CARA PENELITIAN

Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik yang dilakukan untuk mencari hubungan antara dua variabel, dengan menggunakan rancangan cross sectional. Variabel penelitian termasuk faktor resiko dan termasuk efek yang diobservasi sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Populasi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah ibu nifas yang telah melahirkan di RB “Ibunda” Nogosari, Boyolali dalam 5 bulan yaitu bulan Maret sampai juli 2009, didapatkan populasi 271 orang ibu nifas. Dalam pengambilan sampel penelitian ini menggunakan 15% dari jumlah populasi sebanyak 271 ibu nifas, yaitu jumlah subyek yang diteliti sebesar 41 ibu nifas di RB “Ibunda” Nogosari, Boyolali, yang dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2009.

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah quota sampling. Variabel independent dalam penelitian ini adalah tingkat pendidikan formal yang telah ditempuh oleh ibu nifas dan Variabel dependennya adalah pengetahuan ibu nifas tentang perawatan payudara. Penelitian ini menggunakan alat ukur kuesioner yang bersifat Iangsung dan pernyataan tertutup untuk mengumpulkan data pengetahuan perawatan payudara pada ibu nifas.

Tabel 1

Kisi-kisi pertanyaan pengetahuan

Item Pertanyaan
No Item
Jumlah
Manfaat perawatan payudara
1, 2, 3
3
Kendala menyusui
4, 5, 6
3
Persiapan perawatan payudara
7, 8, 10
3
Gerakan perawatan payudara
11,   12,  13, 14, 15
5
Cara pengompresan payudara
9, 16
2
Pengosongan ASI
17, 18
2
Hal yang penting setelah perawatan payudara
19, 20
2
Total
20

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  1. Distribusi Karakteristik Responden

Karakteristik responden menurut kategori umur yang digunakan dalam penelitian ini adalah umur <25 tahun, 25-30 tahun, dan >30 tahun.

Gambar 1. Distribusi Responden Berdasarkan Umur

Gambar 2. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan

Gambar 3. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

  Gambar 4. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan tentang Perawatan Payudara

Berdasarkan gambar 1 diatas dari 41 responden menunjukkan bahwa umur responden terbanyak adalah umur < 25 tahun yaitu 18 orang. (43,9%), sedangkan paling sedikit adalah responden yang umur > 30 tahun yaitu 11 orang (26,8%). Sedangkan pada Gambar 2 didapatkan hasil bahwa responden paling banyak dengan pekerjaan ibu rumah tangga sebanyak 27 orang (65,9%) dan responden yang paling sedikit dengan pekerjaan PNS sebanyak 3 orang (7,3%). Pada Gambar 3 dapat diketahui bahwa responden paling banyak bertingkat pendidikan menengah sebanyak 19 orang (46,3%), yang bertingkat pendidikan tinggi sebanyak 9 orang (9,8%). Hasil distribusi responden berdasarkan pengetahuan tentang perawatan payudara dapat diketahui bahwa ibu yang berpengetahuan tinggi sebanyak 25 orang (61%), berpengetahuan sedang sebanyak 14orang (34,1%), dan berpengetahuan rendah sebanyak 2 orang (4,9%). Sehingga hasil dari penelitian ini diketahui bahwa sebagian besar ibu nifas mempunyai pengetahuan yang tinggi tentang perawatan payudara yang diterangkan pada gambar 4.

  1. Analisis Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Pengetahuan Tentang Perawatan Payudara

Tabel 2

Tingkat Pendidikan Pangetahuan ttp Perawatan Payudara Corsstabulation

Pengetahuan ttg Perawatan Payudara

Total

Rendah

Sedang

Tinggi

Tingkat pendidikan

Dasar

Count

2

9

7

18

% of Tabel

4,0%

22,0%

17,1%

43,9%

Menengah

Count

0

5

14

19

% of Tabel

,0%

122%

34,1%

48,3%

Tinggi

Count

0

0

4

4

% of Tabel

,0%

,0%

98%

9,8%

Total

Count

2

14

25

dl

% of Tabel

4,9%

34,1%

81,0%

100,0%

Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa ibu nifas yang berpendidikan tinggi dan berpengetahuan tinggi tentang perawatan payudara sebesar 9,8% atau 4 orang. Ibu nifas dengan pendidikan menengah yang berpengetahuan menengah tentang perawatan payudara sebesar 12,2% atau 5 orang, sedangkan ibu nifas yang berpendidikan menengah dan mempunyai pengetahuan tinggi tentang perawatan payudara sebesar 34,1% atau 14 orang. Ibu nifas dengan pendidikan dasar dan berpengetahuan rendah tentang perawatan payudara sebesar 4,9% atau 2 orang, ibu nifas yang berpendidikan dasar dan berpengetahuan menengah tentang perawatan payudara sebesar 22,0% atau 9 orang sedangkan ibu nifas yang berpendidikan dasar namun berpengetahuan tinggi tentang perawatan payudara sebesar 17,1% atau 7 orang.

  1. Hasil Pengujian Bivariat

Hasil uji analisa bivariat antara tingkat pendidikan ibu nifas dengan pengetahuan tentang perawatan payudara dalam penelitian ini menggunakan uji Kendall Tau (T). Berdasarkan hasil perhitungan sampel, kerena jumlah sampel Iebih besar dari 40 maka pengambilan keputusan dengan mencari nilai z yang akan dibandingkan dengan nilai z tabel pada a = 0,05. Hasil perhitungan didapat bahwa nilai z hitung adalah 0,854 dan nilai z tabel sebesar 1,96. Karena nilai z hitung lebih besar dari pada nilai z tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti ada hubungan lurus antara tingkat pendidikan ibu nifas dengan pengetahuan tentang perawatan payudara.

Pendidikan adalah pengaruh, bantuan, atau tuntunan yang diberikan oleh orang yang bertanggung jawab kepada anak didik. Pendidikan bertujuan untuk membimbing anak menjadi dewasa, menumbuhkan sikap tanggung jawab, serta memperoleh kebahagiaan. Pendidikan formal yang pemah ditempuh responden, antara lain SD, SLTP, SLTA, Diploma, dan Sarjana yang kemudian dikelompokkan berdasarkan tingkatannya, yaitu pendidikan dasar meliputi SD dan SLTP, pendidikan menengah meliputi SLTA, dan pendidikan tinggi meliputi D III dan Sarjana (Nadi, 2003: 17, 140-144).

Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa dari 41 responden sebagian besar memiliki tingkat pendidikan menengah sebanyak 19 orang (46,3%), ditunjukkan Gambar 4 dapat diketahui bahwa dari 41 responden yang berpengetahuan tinggi sebanyak 25 orang (61,0%), Berdasarkan hasil penelitian dari karakteristik umur di dapatkan sebagian besar responden berumur kurang dari 25 tahun yang menunjukkan 43,9%. Menurut Ahmadi (2001), bahwa bertambahnya umur seseorang dapat berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya. Semakin tua umur seseorang maka proses-proses perkembangan mentalnya bertambah baik. Sedangkan dalam Tabel 1 menunjukkan bahwa orang dengan berpendidikan tinggi akan mempunyai pengetahuan yang tinggi pula, artinya ibu dengan pendidikan tinggi akan mempunyai pengetahuan tentang perawatan payudara. Hasil penelitian ini menunjukkan semakin kompleks hal-hal yang berpengaruh pada pengetahuan seseorang. Selain itu, hasil uji statistik dengan menggunakan Kendall Tau membuktikan ada hubungan tingkat pendidikan dengan pengetahuan tentang perawatan payudara pada ibu nifas dibuktikan nilai z hitung (3,882) > nilai z tabel (1,96). Karena nilai z hitung lebih besar dari pada nilai z tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti ada hubungan lurus antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan tentang perawatan payudara.

KESIMPULAN

 Koefisien korelasi sebesar 0,421 menunjukkan bahwa korelasi antara tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan tentang perawatan payudara termasuk kategori sedang. Koefisien korelasi bertanda positif menunjukkan bahwa korelasi antara tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan tentang perawatan payudara adalah positif atau sebanding dalam artian semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin baik tingkat pengetahuan tentang perawatan payudara.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Ahmadi, H. (2001). Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta
  2. Anonim.    (2008). http://www.aianoberkarva.wordpress.com, diperoleh tanggal 30 April 2009
  3. Anonim.    (2008). http://www.fatamorciana.wordpress.com, diperoleh tanggal 23 April 2009
  4. . http://www.media  indonesia/index, diperoleh tanggal 16 Januari 2009
  5. Azwar, S. (2008). Reliabilitas dan Validitas Edisi III. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  6. Baskoro, A. (2008). ASI Panduan Praktis Ibu Menyusui. Yogyakarta: Banyu Media.
  7. Dinas Kesehatan Kota Surakarta. (2007). Profit Kesehatan Kota Surakarta Tahun 2006. Surakarta: Dinas Kesehatan.
  8. Ghozali, I. (2001). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: Universitas Diponegoro.
  9. Hadi, S. (2003). Pendidikan. ,Surakarta: Sebelas Maret University Press.
  10. Henderson, C. (2005). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
  11. Huliana, M. (2003). Perawatan Ibu Pasca Melahirkan. Jakarta: Puspa Swara.
  12. Hyre, A. (2003). Konsep Asuhan Kebidanan. Jakarta: JHPIEG.
  13. Mansjoer, Arief dkk. (2005). Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
  14. Manuaba, I. B. G. (1998). Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC.
  15. Nasution. (2004). Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
  16. Notoatmodjo, S. (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
  17. Notoatmodjo, S. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
  18. Notoatmodjo, S. (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: PT.Rineka Cipta.
  19. Nursalam. (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Mardika
  20. Roesli, U. (2001). Bayi Sehat Berkat ASI Ekslusif. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo
  21. Sarwono, S. (2002). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
  22. Simkin, P. (2007). Panduan Lengkap Kehamilan, Melahirkan dan Bayi. Jakarta: Transmedia.
  23. Soetjiningsih. (1998). ASI untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: EGC.
  24. Sugiyono.  (2007). Statistika untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta
  25. Taufiqurahman, M. (2004). Pengantar Metodologi Penelitian untuk Ilmu Kesehatan. Klaten: CSGF
  26. Wiknjosastro, H. (2005). Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBPSP.