Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (FIK UMS) menggelar Workshop Persiapan Pendirian Program Studi S3 Ilmu Kesehatan pada Sabtu, 6 Desember 2025 bertempat di Ruang Rektorat Siti Walidah Lantai 6. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam pengembangan pendidikan tinggi kesehatan di UMS menuju jenjang doktoral.
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum, dalam sambutannya menyampaikan bahwa UMS saat ini menaungi 81 program studi, dan tengah mempersiapkan pembukaan Program Doktor Ilmu Kesehatan sebagai bentuk komitmen peningkatan kualitas akademik dan riset.
Dekan FIK UMS Prof. Dr. Umi Budi Rahayu, S. Fis., Ftr., M. Kes., dalam paparannya menjelaskan bahwa FIK memiliki 9 program studi multidisiplin, termasuk tiga program magister yaitu Magister Keperawatan, Magister Fisioterapi, dan Magister Administrasi Rumah Sakit. Selain itu, UMS telah menyiapkan tiga dosen Guru Besar dan dua dosen Lektor Kepala sebagai bagian dari pemenuhan persyaratan tenaga pendidik untuk pembukaan program doktor. Fakultas juga tengah mengajukan nomenklatur baru pada rumpun kesehatan mengingat belum tersedianya nomenklatur resmi untuk “Ilmu dan Sains Kesehatan”.
Dekan FIK turut memaparkan arah visi keilmuan Program Studi S3, yakni “Menjadi pusat pendidikan yang unggul dan inovatif dalam riset translasional multidisiplin di bidang kesehatan melalui pendekatan biopsikososial yang berlandaskan nilai keislaman serta mendorong perubahan positif di tingkat nasional dan internasional.”
Pada sesi diskusi, narasumber dr. Agustin Kusumayati, M.Sc., Ph.D menyoroti aspek regulasi terkait pendidikan profesi dan spesialis berdasarkan UU No. 17. Ia menjelaskan bahwa lulusan sarjana kesehatan wajib mengikuti pendidikan profesi untuk dapat bekerja di bidang pelayanan kesehatan. Dalam konteks tersebut, pengembangan program studi, termasuk profesi, spesialis, dan subspesialis, harus mempertimbangkan kualifikasi tenaga dan kebutuhan layanan kesehatan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya penetapan orientasi riset pada program doktor, apakah akan berbasis research, applied research, atau diarahkan pada pengembangan praktik profesional. Ia juga mengangkat tantangan keberlanjutan program studi dan pentingnya kolaborasi dengan industri sebagai salah satu strategi agar program dapat berkembang dan bertahan.
Masukan tambahan juga disampaikan oleh beberapa peserta. Bu Dr. Dwi Sarbini, S.ST., S.Gz., M.Kes., RD, menyoroti pengalaman kolegium gizi dalam proses persiapan pendirian program spesialis. Bu Irdawati, S.Kep., Ns., MSi. Med mengangkat isu pemanfaatan dosen antarprogram studi, sementara Vinami Yulian, S.Kep., Ns., M.Sc, Ph.D membandingkan praktik pendidikan magister dan spesialis di beberapa perguruan tinggi besar seperti UI dan UNAIR.
Pada penutup sesi, ditegaskan bahwa pendirian Program Studi S3 Ilmu Kesehatan membutuhkan kesiapan kurikulum, ketersediaan tenaga pendidik, keterpaduan dengan regulasi, serta kerja sama intensif dengan kolegium profesi untuk menjamin kualitas lulusan dan keberlangsungan program.
Workshop ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi UMS dalam mengembangkan program doktor yang mampu menjawab tantangan akademik, profesional, dan kebutuhan dunia kesehatan di masa depan.

