Surakarta — Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menerima kunjungan delegasi Universitas Sragen dalam rangka studi banding dan penguatan strategi pengembangan program studi, khususnya terkait persiapan akreditasi sejumlah prodi baru. Kegiatan berlangsung pada hari Selasa, 2 Desember 2025 di ruang sidang dekanat FIK UMS dalam suasana diskusi terbuka dan dihadiri oleh pimpinan kedua institusi.
Acara dibuka oleh MC Zaki Surya dan diawali pembacaan tilawah oleh Wanda. Dekan FIK UMS, Dr. Umi Budi Rahayu, S.Fis.,Ftr.,M.Kes, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada delegasi Universitas Sragen serta memperkenalkan jajaran struktural, termasuk para ketua program studi di lingkungan FIK UMS. Ia menjelaskan bahwa UMS memiliki lima kampus dan menegaskan bahwa semangat Muhammadiyah menjadi landasan dalam setiap kegiatan akademik dan pengabdian.
Wakil Rektor I Universitas Sragen, Suharti, S.K.M., M.Kes, turut memberikan sambutan dan memperkenalkan tim yang hadir, meliputi Wakil Rektor 2 S.R. Rosida, S.Kep., Ns., M.Kes, Kaprodi Fisioterapi Arif Kurniawan, S.Ft., Ftr., M.Si, Kalab Sri Sulastri, S.Kep., Ns., dosen, serta tenaga kependidikan. Ia menyampaikan bahwa Universitas Sragen, yang baru berdiri selama satu tahun, tengah mempersiapkan akreditasi beberapa prodi, antara lain Fisioterapi, Administrasi Rumah Sakit, dan PGSD. Melalui kunjungan ini, pihaknya berharap dapat belajar dari pengalaman FIK UMS dalam pengelolaan prodi dan penyusunan strategi akademik bagi universitas baru.
Materi inti disampaikan oleh Kaprodi Fisioterapi FIK UMS, Adnan Faris Naufal, S.Fis., M.Biomed, yang memaparkan struktur akademik Prodi Fisioterapi UMS yang terdiri atas jenjang Sarjana, Profesi, dan Magister. Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2026 akan dilakukan pembaruan kurikulum dan visi keilmuan. Selain itu, Prodi Fisioterapi UMS memiliki tujuh laboratorium yang turut ditinjau dalam rangkaian kegiatan kunjungan.
Pada sesi diskusi, FIK UMS memaparkan sejumlah keunggulan Prodi Fisioterapi yang berbasis komunitas, termasuk besarnya porsi mata kuliah komunitas, integrasi kearifan lokal dalam kurikulum, penyusunan SOP mitigasi risiko, serta mekanisme monitoring dan evaluasi berkala. Proses pengembangan visi–misi yang diperbarui setiap empat hingga lima tahun berdasarkan masukan berbagai pihak juga menjadi salah satu poin yang dipelajari oleh rombongan Universitas Sragen.
Dalam kesempatan tersebut, FIK UMS memberikan beberapa rekomendasi bagi Universitas Sragen, di antaranya penguatan implementasi tridarma berbasis komunitas, penyesuaian kearifan lokal dengan karakteristik daerah, serta pemenuhan standar laboratorium sesuai ketentuan APTIFI.
Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab dan peninjauan laboratorium Fisioterapi UMS. Melalui kunjungan ini, kedua institusi diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dan saling mendukung dalam pengembangan pendidikan kesehatan yang berkelanjutan.
